Wunga Loading... Kalembo Ade
Home » , , » Upacara Kehamilan dan Kelahiran Masyarakat Bima - Mbojo

Upacara Kehamilan dan Kelahiran Masyarakat Bima - Mbojo


NGGANTA RO WA’A (PRA KELAHIRAN)
Dalam bahasa Mbojo (Bima) ngganta artinya mulai ngidam atau hamil muda. Sedangkan wa’a adalah pembawaan seseorang apabila sedang mengandung seperti : 
1. Raho ro uri
Raho berarti meminta sesuatu dan uri adalah memesan khusus,raho ro uri adalah sebuah kata kiasan yang mempunyai makna “keinginan maupun naluri seseorang pada saat hamil. Misalnya:
  • Mengginginkan makanan tertentu seperti asam-asaman,hati kijang,buah dan ikan
  • Menyenangi pakaian seperti warna merah,hijau,kuning,biru maupun kombinasi warna atau corak kembang.
  • Kepinggin akan wangi-wangian atau kembang seperti bunga melati,anggrek,mawar,dahlia,cempaka dan lain-lain
  • Apabila raho ro uri seseorang yang sedang mengandung atau hamil tidak terpenuhi anaknya nanti setelah melahirkan pada masa ayi akan mengalami kajorooi fela (ngiler).
2. Kiri Loko
Apabila kehamilan telah mencapai 7 bulan, akan diadakan upacara sederhana yang disebut kiri loko (nuju bulan).artinya memperbaiki letaknya bayi dalam kandungan,semula kepalanya keatas setelah tujuh bulan mulai menghadap kebawah mendekati mulut rahim ibunya.
Pada saat upacara kiri loko berkumpulah famili dari pihak isteri dan suami dengan mengadakan kegiatan diantaranya:
  • Menyediakan makanan khusus “mangonco” (rujak)
  • Pembacaan Al Qur’an surat Yususf dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat.
  • Wai Sando (dukun bayi) memeriksa dan memeperbaiaki letaknya bayi dalam kandungan ibunya.
Dalam upacara kiri loko dilarang memotong hewan,menurut kepercayaan mereka wati pehe dianggap tabu,apabila menumpahkan darah,natinya berakibat fatal bagi ibunya pada waktu melahirkan akan terjadi pendarahan.

3. Wari ro Sai
Wari ro sai berarti sesuatu pekerjaan/perbuatan bapaknya si cabang bayinya,dengan selalu mengucapkan “aina wari ro sai” anu nahu”artinya memohon kepada yang kuasa,agar anaknya nanti tidak lahir dengan cacat sebagai akibat dari segala perbuatan bapaknya..
Sepanjang hari,bagi sang suami kalau isterinya sedang hamil,selalu berbuat hati-hatiatau selalu mengucapkan ‘aina wari ro sai” (amit-amit cabang bayi sebelum melakukan sesuatu pekerjaan,apabila lupa takut akan mengakibatkan anaknya lahir dalam keadaan cacat.
Dari kata “wari ro sai” dapat disimpulkan:
  • Setiap memulai sesuatu pekerjaan sang ayah selalu ingat pada Ynag Maha Pencipta dan keselamatan keluarganya.
  • Tidak boleh sombong,takabur dan lupa diri.
  • Selalu melakukan pekerjaan dengan tulus hati,penuh keikhlasan demi keluarganya dan masyarkat.
NGGANA RO NGGINA
Nggana berarti melahirkan, sedangkan nggina adalah proses sesudah kelahiran, ada beberapa hal yang berhubungan dengan nggana ronggina daalam tradisi masyarakat Mbojo :

1. Tosi Woke
Yaitu pemotongan tali pusaryang dilakukan setelah bayi yang baru lahir setelah di,mandikan dengan pemotongan tali pusar menggunakan alat sederhana yang diambil dari geri  o’o (sembilu bambu) yang sudah disterilkan dengan huni ro afu (kunyit dan kapur sirih). 
Setelah pemotongan tali pusar untuk memisahkan bayi dengan ari-arinya, proses selanjutnya membersihkan ari-arinya lalu menguburkan di kolong rumah tinggal atau ada pula yang memasukkan dalam periuk tanah yang baru, setelah ari-arinya dicampur dengan abu dapur disimpan di atas pohon

2. Baka
Bayi yang sudah terpisah dengan ari-arinya digendong oleh wai sandonya (dukun anak) untuk melakukan baka sebagai berikut :
  • Memukul lantai dengan tumitnya 3 kali
  • Memukul besi dengan besi  3 kali
  • Memukul batu dengan batu 3 kali
Dengan memukul baka bertanda :
  1. Mengingatkan bayi akan dunia barunya di luar kandungan atau alam semesta
  2. Memberikan kebiasaan kepada bayi agar tidak kaget dengan bunyi-bunyian di sekitarnya
3. Azan dan Iqamah
Setelah sang ayah menerima bayinya wai sando, mulai melakukan azan dan iqamah menurut syari’at Islam pada telinga kanannya dilakukan azan dan di telinga kirinya dilakukan iqamah.

4. Wa’a di Oi
Setelah kering, potongan tali pusarnya dan lepas dari badan bayi, bayi tidak boleh memandikan lagi di rumah saatnya wa’a di oi (turun mandi) ke sungai atau ke sumber mata air di luar rumah.
Dalam perjalanan bayi selalu digendong oleh wai sando dengan memakai kain gendongan yang dibuat dari kain putih (weri), setelah diberi warna kuning dari kunyit agar steril.
Perlengkapan lain yang diperlukan adalah sebuah pisau khusus yang mempunyai mata bercabang-cabang disebut piso tawoa. Pada tiap-tiap mata pisau ditusuki dengan tawoa, huni, soku, ro ncuna (bangle, kunyit, kencur, dan bawang putih). Pisaunya juga telah dicoret-coret dengan kapur sirih dan kunyit menjadi belang-belang merah dan putih.
Pisau untuk bayi ini melambangkan bahwa kehidupan mulai dari bayi hingga dewasa ramu-ramuan itulah yang berfungsi sebagai obat tradisional, dan sebilah pisau sebagai salah satu alat terpenting dalam kehidupannya sehari-hari.

5. Cafi Sari
Apabila telah kembali dari wa’a di oi, wai sando malakukan cafi sari, yaitu membersihkan tempat bekas melahirkan maupun alat-alat yang dipakai waktu melahirkan.

6. Doro ro Tangara
Upacara doro ro tangara artinya melakukan aqiqah dengan memberikan nama kepada bayi setelah berumur 7 hari.




Follow Twitter @Info_Mbojo & Facebook Info Mbojo


My Great Web page
Share this article :

0 Komentar:

Poskan Komentar

Santabe, ta komentar mena, bune kombi menurut ndai kaso ta re

 
Support : Forum Dou Mbojo | Tofi Foto | Info Mbojo
Copyright © 2007. Mbojo Network, Berita dan Informasi Bima Dana Mbojo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Dominion Rockettheme
Proudly powered by Blogger